ilustrasi-kreatif-digi

Saya Ditertawakan ketika Presentasi tentang AI

ilustrasi-kreatif-digi
ilustrasi-kreatif-digi

Saya pernah ditertawakan oleh salah satu pemilik perusahaan ketika dalam sebuah presentasi saya menyampaikan bahwa dinamika perusahaan dalam menghadapi kecerdasan buatan (AI) tidak dapat dipisahkan dari sentuhan manusia. Bagi sebagian orang, pernyataan itu mungkin terdengar terlalu takut posisi saya digantikan AI. Bahkan dianggap kurang memahami kecepatan perubahan teknologi. Sebab hari ini, AI tampak begitu mengagumkan dan terlihat gampang digunakan. Dalam hitungan detik, ChatGPT, Claude, dan berbagai platform kecerdasan buatan lainnya dapat menghasilkan tulisan, analisis, ide kampanye, strategi konten, hingga rancangan proses bisnis.

AI memang mampu bekerja cepat. Tetapi kecerdasan bukan selalu berarti ketepatan. AI dapat memberikan jawaban, tetapi belum tentu memahami konteks bisnis, karakter pelanggan, positioning merek, budaya organisasi, hingga tujuan strategis perusahaan secara utuh. Ini baru bicara untuk kebutuhan internal.

Bagaimana jika bicara kebutuhan komunikasi ke pelanggan?

AI belum tentu dapat membaca cepat dinamika kultur yang terjadi pada masyarakat. Konten-konten apa yang dibutuhkan dan agar selalu tetap relevan dan dekat pada konsumen yang dituju. Di sinilah, manusia tetap memegang peranan penting.

courtesy of instagram/@aldis.burger, @aldis.hotdog

Melihat fenomena Aldi’s Burger dengan promosi viralnya, kita belajar satu hal penting bahwa ide bisa saja lahir namun eksekusinya membutuhkan konsisten dan waktu dedikasi. Mungkin Aldi Taher saat itu secara spontan dalam melakukan promosi burgernya. Akan tetapi, kepekaan membaca situasi, tampil apa adanya, dan ingin membangun dengan konsumen secara humanis, membuat promosi ini memiliki keberhasilan yang sangat tinggi.

Dalam kondisi seperti Aldi’s Burger, Aldi sendiri bahkan mengaku kewalahan menghadapi respon yang begitu besar. Ini menjadi contoh menarik bahwa keberhasilan promosi digital tidak berhenti pada kemampuan menciptakan konten, tetapi juga pada kemampuan mengelola dampak dari konten tersebut.

Kita pasti merasakan bagaimana sebuah konten yang diciptakan beberapa brand cukup berhasil menarik perhatian. Namun, hanya karena kesalahan pemilik yang telat membangun sistem kerja yang baik, akhirnya brand itu pun tumbang. Sering terjadi masalah itu muncul di operasional. Seperti kurang cepat membalas respon, tidak mampu menjaga konsisten kualitas, sampai tidak ada konten lanjutan untuk menjaga eksistensi brand.

Karena itu, perusahaan yang masih menganggap tanpa perlu team lagi karena AI dapat melakukannya itu merupakan kekeliruan yang tentu tidak bisa ditertawakan seperti kita menertawakan aksi spontan Aldi Taher dalam promosi burgernya. Secara serius, perusahaan membutuhkan tim yang didedikasikan untuk membangun, melatih, menguji, dan menyempurnakan cara kerja AI agar sesuai dengan kebutuhan bisnisnya.

Bukan dalam hitungan satu atau dua jam. Bukan pula sekedar mencoba beberapa prompt lalu berharap hasilnya langsung sempurna.

AI juga membutuhkan proses adaptasi. Ia perlu dikenalkan pada gaya komunikasi perusahaan, karakter produk, kebutuhan pelanggan, standar kualitas, hingga batasan-batasan strategis yang tidak boleh dilanggar. Dalam hal ini, tentu butuh waktu proses yang berkesinambungan.

Sebagaimana ditekankan dalam buku Reimagining Operational Excellence: Inspirations from Asia (2024) oleh Philip Kotler, Hermawan Kertajaya, dan Jacky Muyssry, keunggulan operasional di era modern tidak lagi hanya berbicara efisiensi biaya atau standarisasi proses. Lebih dari itu, perusahaan dituntut untuk memiliki ketangkasan atau agility.

Agility menjadi kunci karena perubahan hari ini tidak selalu berjalan linear. Teknologi bergerak cepat. Perilaku pelanggan berubah terus terjadi. Kompetisi menjadi semakin tidak ada batasan. Dalam situasi seperti ini, perusahaan tidak cukup hanya efisiensi. Perusahaan harus memiliki team yang solid dan cepat dalam bekerja agar mampu merespon perubahan dengan cepat juga.

Pada akhirnya, AI bukan senjata utama bagi perusahaan. Ia hanyalah alat canggih yang sangat penting digunakan bagi team perusahaan.

Tidak Perlu Memperbesar Organisasi

Dalam situasi seperti ini, perusahaan sebenarnya tidak perlu selalu memperbesar struktur organisasi atau membentuk divisi baru hanya untuk mulai memanfaatkan AI. Yang lebih penting adalah bagaimana perusahaan mampu membuka diri terhadap model kolaborasi yang lebih lincah.

Sejak dulu, saya sering menyampaikan kepada banyak pemilik bisnis bahwa digital marketing tidak seharusnya diperlakukan sebagai pekerjaan satu kali selesai. Website jadi, lalu didiamkan. Buat video company profile sudah bagus, upload lalu tidak ada akselerasi lanjutannya. Bayar iklan META, Google, hingga TikTok menunggu keajaiban terjadinya penjualan seperti yang dijanji-janjikan jasa pengiklan. Dan lebih bahayanya lagi adalah konten dibuat jika sempat. Brosur dibuat ketika ada kebutuhan pameran. Yang desain brosur tidak pernah sama sekali buka website Anda, tidak memahami produk Anda, ia hanya kebetulan desain karena bekerja di tempat di mana Anda cetak brosur.

Cara kerja seperti ini mungkin cukup pada masa ketika kompetisi belum terlalu padat. Tetapi hari ini, pasar bergerak terlalu cepat untuk dikelola dengan pendekatan yang terputus-putus. Digital marketing harus dilihat sebagai ekosistem.

Website, media sosial, konten promosi, desain presentasi, brosur, banner, artikel SEO, video konten, foto konten, hingga materi penjualan seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri. Semuanya perlu memiliki arah komunikasi yang sama, positioning yang sama, tone of voice yang sama, dan tujuan bisnis yang saling terhubung.

Karena itu, saya juga sering sampaikan dalam tulisan-tulisan artikel sebelumnya,

jangan biarkan website dikerjakan oleh satu vendor, media sosial oleh vendor lain, desain promosi oleh pihak berbeda bahkan materi sales oleh vendor yang tidak memahami strategi komunikasi perusahaan Anda.

Dalam marketing modern, konsistensi adalah mata uang kepercayaan. Hal yang sama sekarang juga berlaku di dalam pemanfaatan AI.

AI tidak akan memberikan hasil yang benar-benar kuat jika hanya digunakan secara sporadis. Hari ini dipakai untuk membuat caption. Besok dipakai untuk membuat artikel. Lusa dipakai untuk membuat ide visual. Tetapi semuanya tidak terhubung dengan strategi brand, kebutuhan pasar, dan tujuan bisnis perusahaan.

Agar AI mampu memberikan hasil kerja berkesinambungan, ia perlu berada dalam sistem kerja yang utuh. Ada manusia yang memahami konteks dari brand Anda. Ada tim yang mengerti arah komunikasi brand Anda. Ada proses yang menjaga kualitas hasil konten. Ada evaluasi yang memastikan setiap output tepat.

Agensi kreatif semakin menjadi relevan. Agensi yang bukan sekedar menawarkan ‘pengerjaan konten’, tetapi sebagai partner strategi yang selalu ada setiap perusahaan membutuhkannya. Yang setiap hari mengolah ekosistem digitalnya secara lebih adaptif, efisien, dan berkelanjutan.

Itulah mengapa saya selalu sampaikan kepada tim Kreatif Digi bahwa tidak memandang AI sebagai ancaman, melainkan sebagai kapabilitas baru yang harus dikuasai. AI harus membantu tim bekerja lebih cepat, berpikir lebih luas, dan merespon kebutuhan klien dengan lebih tangkas.

Dalam persaingan bisnis yang semakin dinamis, perang konten tidak akan berhenti. Bahkan, perhatian konsumen akan semakin mahal. Waktu untuk menarik perhatian pasar semakin singkat. Perusahaan dituntut lebih fleksibel, lebih cepat, dan lebih cermat dalam mengelola sumber dayanya.

Pada titik ini, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah perusahaan membutuhkan agensi digital marketing?

Melainkan, bagaimana perusahaan bisa membangun ekosistem digital marketing yang konsisten tanpa harus membesarkan organisasi internal secara berlebihan?

Sejak awal berdiri, Kreatif Digi bukan menggantikan tim internal perusahaan. Kami hadir untuk menjadi sumber daya eksternal yang bekerja secara cepat dan dapat diandalkan oleh klien kami. Kami dapat membantu perusahaan membangun sistem digital marketing yang lebih menyatu baik dari sisi media sosial, website, SEO hingga konten promosi penjualan.

Bagi klien, kami ini adalah cara paling ekonomis untuk membangun ekosistem digital marketing. Klien kami tidak perlu menambah banyak karyawan, memperpanjang birokrasi, atau bahkan membangun divisi baru dan tidak ada jaminan produktif.

Inilah era operational excellence, bagaimana perusahaan mengoptimalkan sumber daya yang ada untuk menghasilkan nilai yang lebih besar. Bukan sekedar hemat dan cepat. Tetapi juga bekerja dengan tepat.

Dan di era AI, perusahaan yang paling siap bukanlah perusahaan yang paling banyak memiliki tools. Melainkan perusahaan yang mampu menggabungkan teknologi, manusia, proses, dan partner yang tepat ke dalam ekosistem kerja yang lincah.

Menurut Anda, apakah artikel ini saya tulis dengan AI?

Artikel ditulis oleh :

Denny Dominicus
Managing Director at  | Website

Selamat Datang Kepada Calon Klien di Kreatif Digi, yang Melayani Industri Kesehatan yang selalu Berkembang.


Jika Anda ingin tahu artikel lain yang serupa dengan Saya Ditertawakan ketika Presentasi tentang AI, Anda bisa mengunjungi kategori Insight.

Artikel Terkait

Go up